



Padang (FEB UNAND) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (FEB UNAND) melalui Departemen Ekonomi kembali menyelenggarakan Seminar Internasional Hendra Esmara Lecture Series 2026 pada Rabu (1/7/2026). Memasuki penyelenggaraan yang ketiga, seminar ini dilaksanakan secara hybrid, dengan peserta hadir langsung di Ruang Seminar FEB UNAND serta mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting.
Mengusung tema “Inequality and Development Economics”, seminar ini menjadi wadah akademik untuk membahas berbagai isu strategis terkait ketimpangan dan pembangunan ekonomi, sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan praktisi dalam merumuskan solusi terhadap tantangan pembangunan di Indonesia.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Wakil Rektor IV Universitas Andalas, Dr. Hefrizal Handra, M.Soc.Sc., yang mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk penghargaan dari FEB Unand terhadap almarhum Prof. Drs. Hendra Esmara atas pengabdiannya sebagai dosen FEB Unand dan kontribusi yang besar di bidang regional development. Dr. Hefrizal Handra menyampaikan bahwa tema “Inequality and Development Economics” sangat relevan dengan agenda pembangunan Indonesia saat ini. Menurutnya, meskipun perekonomian Indonesia terus mengalami pertumbuhan, berbagai tantangan masih perlu diatasi, seperti mengurangi ketimpangan, mempercepat transformasi struktural, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memastikan kekayaan sumber daya alam dapat memberikan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjawab tantangan tersebut melalui riset yang berkualitas, dialog akademik yang terbuka, serta rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dekan FEB UNAND, Dr. Fery Andrianus, S.E., M.Si., Dalam sambutannya, Dekan FEB UNAND, Dr. Fery Andrianus, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa Hendra Esmara Lecture Series merupakan wujud komitmen fakultas dalam melanjutkan tradisi akademik yang menjadikan riset sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan. Ia menegaskan bahwa tema “Inequality and Development Economics” sangat relevan untuk mendorong lahirnya gagasan dan kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Presiden Indonesian Regional Science Association (IRSA), Prof. Djoni Hartono, berharap seminar ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga menghasilkan gagasan yang dapat mendukung perumusan kebijakan pembangunan yang lebih baik. Ia juga menyampaikan harapannya agar forum ini semakin memperkuat kolaborasi antara Universitas Andalas, IRSA, dan ANU Indonesia Project. Kepada mahasiswa dan peneliti muda, Prof. Djoni mendorong agar mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar merumuskan pertanyaan penelitian yang berkualitas, karena riset yang baik selalu berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai siapa yang memperoleh manfaat pembangunan, siapa yang masih tertinggal, serta kebijakan apa yang diperlukan untuk mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif.
Seminar menghadirkan tiga akademisi terkemuka yang membahas berbagai perspektif mengenai ketimpangan, pembangunan, dan tata kelola ekonomi. Prof. Arief Anshory Yusuf, S.E., M.Sc., Ph.D. dari Universitas Padjadjaran mempresentasikan materi berjudul “Seventy Years of the Kuznets Curve: Is Education a Facilitator of Structural Transformation or a Driver of Inequality”, yang mengulas peran pendidikan dalam transformasi struktural ekonomi sekaligus keterkaitannya dengan dinamika ketimpangan.
Selanjutnya, Prof. Budy P. Resosudarmo dari Australian National University menyampaikan presentasi bertajuk “Is There a Natural Resource Curse at the Local Level? A Case Study in Indonesia”, yang membahas fenomena kutukan sumber daya alam pada tingkat daerah melalui studi kasus di Indonesia serta implikasinya terhadap pembangunan ekonomi lokal.
Sementara itu, Prof. Dr. Werry Darta Taifur, S.E., M.A. memaparkan materi “Extractive Institution and the Danger of Decentralization”, yang mengangkat pentingnya kualitas institusi dalam pelaksanaan desentralisasi serta tantangan yang dapat muncul apabila tata kelola pemerintahan tidak berjalan secara efektif.
Diskusi selama seminar dipandu oleh dua moderator dari Departemen Ekonomi FEB UNAND, yakni Ratih Ramadhani, S.E., M.S.E. dan Rahmi Afzhi Wefielananda, S.E., M.S.E., yang mengarahkan jalannya sesi tanya jawab dan diskusi interaktif antara narasumber dengan peserta.
Penyelenggaraan Hendra Esmara Lecture Series 2026 merupakan hasil kolaborasi FEB UNAND dengan berbagai institusi, di antaranya Australian National University (ANU) Indonesia Project, Indonesian Regional Science Association (IRSA), Lembaga Penelitian Ekonomi Regional (LPER) FEB UNAND, serta Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Padang.
Melalui seminar internasional ini, FEB UNAND terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan forum akademik berkualitas yang mampu memperkaya khazanah keilmuan, memperluas jejaring kerja sama internasional, serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan inovatif bagi pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.